22 November 2022
Sinterklaas VS Santa Claus (Bagian I)
Jika berbicara soal hari natal, maka Sinterklaas (Bahasa Belanda) atau Santa Claus adalah hal yang tak terlepaskan dari perayaan Natal. Tokoh ini sangat populer karena biasanya membawa kebahagiaan di hari natal kepada anak-anak. Digambarkan sebagai seorang tua, berjenggot putih yang membawa kado kepada anak-anak yang berperilaku baik di hari natal. Tapi mari kita menelaah lebih jauh mengenai kedua tokoh ini.
Kesalahan terbesar bagi orang-orang adalah menganggap bahwa Sinterklaas atau Santa Claus adalah sosok yang sama. Kenyataannya “Tidak”. Sinterklaas dan Santa Claus adalah sosok yang berbeda (akan dibahas ditulisan berikut). Di Indonesia kedua sosok ini masuk karena asimilasi budaya yang tumpang tindih dan tidak jelas. Kebanyakan orang-orang di Indonesia menyerap kebudayaan asing tanpa tahu sejarah dan latar belakang perayaan dengan benar. Kemudian diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari dan menimbulkan budaya baru di Indonesia. Seperti perayaan Natal yang selalu identik dengan Sinterklaas atau Santa Claus, sehingga akhirnya diharamkan oleh beberapa aliran gereja hanya karena tidak tahu dengan benar soal perayaan Sinterklaas.
Mari kita sedikit melihat cerita Sinterklaas di Belanda yang menjadi negara asal perayaan Sinterklaas. Sinterklaas adalah volksfeest (pesta rakyat) terbesar untuk anak-anak di Belanda. Di Belanda Sinterklaas diceritakan berlayar dari Spanyol dengan stoomboat (kapal uap) menuju ke Belanda. Dia dibantu oleh Zwarte Piet (Piet Hitam) untuk membawakan hadiah kepada anak-anak di Belanda yang berlaku baik sepanjang tahun. Tetapi kepada anak-anak yang tidak berperilaku baik, maka Zwarte Piet akan memasukan mereka ke dalam zak (kantong) kemudian dibawa ke Spanyol.
Di Belanda perayaan Sinterklaas dimulai dengan intocht alias pembukaan. Intocht menjadi suatu tanda bahwa mulai saat itu, anak-anak boleh menaruh sepatu mereka dibawah cerobong asap dengan harapan bahwa mereka akan mendapatkan hadiah dari Sinterklaas karena telah berperilaku baik sepanjang tahun. Sepatu itu kemudian diisi dengan wortel yang menjadi makanan bagi kuda Sinterklaas yang bernama Amerigo. Kadang anak-anak juga mengisi sepatu mereka dengan pepernoten dan snoep (kue kecil tradisonal Belanda dan permen). Mereka menganggap bahwa pepernoten dan snoep akan dimakan oleh Sinterklaas.
Intocht atau pembukaan perayaan Sinterklaas dimulai pada bulan November. Prosesi acara intocht dimulai dari haven (pelabuhan) dimana kapal uap Sinterklaas bersandar. Disana Sinterklaas bersama zwarte Pieten (Piet-Piet hitam (jamak), kalau hanya satu disebut Zwarte Piet) akan diterima. Kemudian Sinterklaas akan mengendarai kudanya, Amerigo berjalan mengelilingi kota disertai parade dan berakhir di Grotte Markt atau Town Hall (Balai Kota) yang berada di tengah-tengah kota. Perayaan kemudian dilanjutkan dengan dance dan tarian serta akan diputarkan lagu –lagu Sinterklaas untuk mengajak anak-anak bernyanyi bersama. Acara dihadiri bukan hanya oleh anak-anak dan orang tua tetapi juga oleh burgemeester (walikota). Walikota akan memberikan kata sambutan kepada seluruh masyarakat kota dan ikut bernyanyi serta menari untuk memeriahkan acara. Puncak acara adalah ketika Sinterklaas mengumumkan bahwa mulai malam hari setelah intocht, anak-anak sudah boleh meletakkan sepatu sebelah kirinya di bawah cerobong asap atau perapian. Perayaan intocht ini biasanya akan diliput secara langsung oleh televisi nasional dan lokal serta disiarkan live di channel tv nasional dan lokal. Masing-masing kota di Belanda mempunyai prosesi acara intocht yang berbeda tetapi pada dasarnya sama. Perayaan Sinterklaas ini diorganisir oleh yayasan Sinterklaas yang ada di setiap kota di Belanda.
Sejak intocht anak-anak akan mendapatkan hadiah di dalam sepatu mereka. Tentu saja yang memberikan hadiah adalah orang tuanya tanpa diketahui oleh anak-anak. Beberapa orang tua bahkan ada yang menaruh hadiah setiap hari di dalam sepatu anaknya. Jadi bukan hanya sehari acara Sinterklaas berlangsung. Ada tenggang waktu sekitar 2 minggu sampai tanggal 5 Desember, yang merupakan hari terakhir Sinterklaas berada di Belanda. Itulah mengapa Sinterklaas dirayakan pada bulan Desember secara besar-besaran. Yang pada akhirnya perayaan ini dikaitkan dengan natal yang juga jatuh pada bulan Desember.
Puncak perayaan Sinterklaas adalah pada tanggal 5 Desember di Belanda. Malam tanggal 5 Desember ini disebut "Pakjesavond". Pada malam 5 Desember anak-anak akan mendapatkan hadiah yang lebih banyak lagi di dalam kantong-kantong besar. Beberapa keluarga bahkan menyewa Sinterklaas dan Zwarte Piet untuk datang ke rumah mereka. Anak- anak akan disuruh menyanyi atau menari sebelum mendapatkan hadiah. Untuk menanambah serunya acara, biasanya Sinterklaas datang dengan membawa buku merah yang tebal dan besar. Buku itu berisi daftar kenakalan dan kebaikan anak-anak. Nah bagaimana Sinterklaas bisa mengetahui kenakalan apa saja yang telah dilakukan oleh anak-anak? Ada orang tua yang memang sengaja menuliskan kenakalan anak-anak mereka kemudian diserahkan kepada Sinterklaas yang disewa, untuk dibacakan pada malam pakjesavond. Malam perayaan ini juga dimeriahkan dengan pemberian hadiah kepada orang dewasa. Semua orang berbahagia pada malam tersebut. Pada tanggal 6 Desember Sinterklaas beserta rombongannya meninggalkan Belanda menuju ke Spanyol melalui Belgia.
Satu hal yang cukup menarik mengenai Perayaan Sinterklaas di Belanda adalah sebelum Sinterklaas meninggalkan Belanda alias perayaan Sinterklaas berakhir, orang-orang tidak akan memasang dekorasi natal, sebagai penghormatan kepada Sinterklaas alias Santo Nikolas. Tentu saja hal ini berbeda dan jauh bertentangan dengan perayaan natal di Indonesia yang selalu dibumbui dengan Sinterklaas dan Santa Claus.
Melihat cerita di atas maka bisa disimpulkan bahwa perayaan Sinterklaas bukanlah perayaan Natal seperti yang selama ini dikira dan jauh dari perayaan orang Kristen. Karena semua anak bisa ikut merayakannya tanpa melihat perbedaan agama. Perayaan Sinterklaas di negara asalnya, Belanda, merupakan suatu pesta rakyat atau perayaan budaya bagi anak-anak dan tidak ada hubungan sama sekali dengan perayaan Natal. Jadi sangat dangkal sekali jika ada suatu denominasi aliran kepercayaan yang kemudian mengharamkan acara ini apalagi sampai berkhotbah di atas mimbar mengenai penipuan Sinterklaas.
Ada baiknya kita belajar untuk mengerti dan memahami sejarah suatu perayaan dibanding mengkritisinya apalagi mengharamkamnya sebelum tahu kebenaran yang sesungguhnya. Membekali diri dengan pengetahuan adalah suatu tindakan yang bijaksana dan edukatif.
Bersambung...
